Pandawa-Korawa dan Sampul Buku - Abib M.
Sebuah cerita Jawa, tentang Pandawa dan Korawa. Umumnya orang akan
berkata bahwa Pandawa baik, dan Korawa sebaliknya. Apa iya seperti itu? Hmm...
Kalau dilihat dari bidang Literature, saya pikir ini hanyalah masalah 'point of
view'. Semua orang ingin berada di pihak Pandawa, oleh karena itu
yang mereka lihat adalah sisi buruk para Korawa. Ada baiknya kalau kita melihat
dari sisi seberang. Cobalah sesekali tanya pada diri kita sendiri, INTROSPEKSI.
Apakah sifat kita yang selalu menempatkan Korawa di sisi kiri, sisi yang
katanya jelek itu sudah objektif? Apa iya Korawa seburuk yang ada di pikiran
kita selama ini?
Ada pepatah bilang, “jangan lihat buku hanya dari sampulnya”.
Pepatah yang sudah sangat terkenal sebenarnya. Sudah banyak juga yang tau
maknanya. Kalau tidak salah intinya pepatah ini menyuruh kita untuk lebih
teliti melihat, membaca, atau dengan kata lain mengenal sebuah objek sebelum
kita menilai objek tersebut. Loh, kok jadi bahas pepatah ya? Mau cerita Pandawa-Korawa
atau belajar Bahasa Indonesia kelas 5 SD? Haha…
Yang pasti tidak mungkin lah saya cerita pewayangan. Selain saya
memang tidak begitu paham dengan ceritanya, takutnya nanti dibilang kuno lagi.
Dan seperti yang saya bilang tadi, untuk pepatah di atas sudah banyak yang tau,
jadi buat apa dibahas. Pada dasarnya kedua hal tersebut hanyalah pengantar.
Saya ingin menghubungkan keduanya dengan hal yang lebih sepele, tentang
fenomena sehari-hari, yaitu masalah PERTEMANAN. Kita semua pasti pernah
mengalaminya, mau tidak mau, suka atau tidak, pasti akan selalu ada orang yang
tidak kita sukai (tingkatan paling dasar sebelum menjadi musuh). Atau
sebaliknya, ketika kita sudah bersikap sebaik-baiknya, berusaha untuk tidak
membenci orang lain, nggak tau kenapa malah mereka yang tidak suka dengan kita.
Tidak jelas juga hal itu disebabkan karena kesalahan kita tau kesalahan mereka,
tapi hal ini sangat biasa terjadi. Pertemanan itu memang susah dijabarkan, ada
pertemanan yang menyenangkan, tapi banyak pula yang malah hanya membebani
pikiran kita. Ruwet!
Mungkin sudah penyakit keturunan kali ya? Kan Pandawa dan Korawa
itu katanya adalah leluhur kita, makanya sifatnya nurun ke kita. Haha…
(ngawur). Entahlah, apakah kengawuran saya itu benar atau tidak, yang pasti
saat ini kebanyakan dari kita memiliki sifat mereka. Kita sering menyalahkan
orang lain dan menilai diri kita lah yang benar, persis dengan apa yang
dilakukan oleh para Pandawa terhadap Korawa. Padahal kalau cuma ingin
salah-menyalahkan, dengan mudah kita juga dapat dikategorikan salah loh! Orang
dapat dinilai salah tidak hanya dari kelakuannya saja. Kalau kelakuannya baik,
ternyata pikirannya jelek ya sama saja. Contohnya ya si Pandawa itu. Mereka
memang baik, tapi kekurangannya adalah bahwa mereka selalu menyalahkan Korawa,
padahal kan belum tentu si Korawa itu salah. Kalaupun mereka memang salah,
belum tentu kesalahan tersebut dengan sengaja mereka lakukan. Lalu, apakah
kesalahan yang tidak sengaja itu pantas dijadikan alasan untuk
menjelek-jelekkannya, mengolok-olok, lantas memusuhinya? Kalau Tuhan saja mau
mengampuni dosa yang tidak sengaja, kenapa kita begitu ceroboh?
Jika kita tidak menginginkan “peperangan” terjadi, sebaiknya kita
cepat menyadari hal ini. Caranya adalah dengan tidak menjadi orang yang egois,
yang hanya menilai orang lain tapi diri sendiri tidak diurus. Kesimpulannya
kembali ke kata INTROSPEKSI. Kalaupun ternyata hasilnya bahwa kita memang sudah
berada pada posisi yang benar, belum tentu pihak yang lain salah. Cobalah lebih
teliti memahami posisi mereka, jangan cepat-cepat menyimpulkan. Mendekatlah dan
kenali mereka lebih mendalam. Buku dengan sampul yang jelek pun adalah sebuah
karya hasil dari sebuah pemikiran, dan kita hanya akan tau apa yang terkandung
di dalamnya ketika kita sudah membacanya.
Hahaha… Akhir kata, saya ucapkan thank you so much buat kalian
yang berkenan hadir dan membaca isi blog ini. Sekali lagi saya hanyalah seorang
yang sedang tidak bisa tidur. Jadi harap maklum jika yang saya tulis agak atau
sangat morat-marit. Beruntung kalau kalian suka, tapi saya juga tidak marah
kalau kalian mencela. Have a nice dream! Zzz…
Tulisan ini terinspirasi oleh novel Perang – Putu Wijaya
(2002)